Melody Violine Analisis Novel Anak Jenis Fiksi Realistik Universitas Indonesia

| Posted in , | Posted on Selasa, Januari 10, 2012


Fahri Asiza, lahir di Jakarta, meski telah lama menjadi novelis, Fahri Asiza baru mulai mengarang untuk anak-anak pada tahun 2004. Sampai bulan Maret 2006, Fahri Asiza telah menerbitkan 13 buku untuk anak-anak. Novel-novel berseri anak-anaknya adalah Serial Dayak 1, Hilangnya Tongkat Sakti (DAR! Mizan, 2004), Serial Dayak 2, Komplotan Penjual Batu Akik (DAR! Mizan, 2004), Serial Dayak 3, Rahasia Puri Tarantula (DAR! Mizan, 2004), dan Serial Keluarga Sakinah 1: Jas Hujan Buat Abi (Cakrawala Publishing, 2005). Novel-novel lepas anak-anaknya adalah Kita Semua Anak Negeri Ini (Gema Insani, 2006), Negeri Awan Merah (Beranda Hikmah, 2005), Maafkan Nina, Nek! (Zikrul Hakim, 2005), Mencari Ajeng (Gema Insani, 2005), Bunga-Bunga Kertas (Gema Insani, 2004), Menangkap Hantu dan Melacak Jejak Pencuri (Zikrul Hakim, 2004), Rinduku Padamu Ibu (Gema Insani, 2004), dan Rere (Senayan Abadi, 2005). Kumpulan cerpen anak-anak yang telah diterbitkan oleh Fahri Asiza hanya satu, yaitu Adikku Sofia (Beranda Hikmah, 2004).
Kita Semua Anak Negeri Ini dipilih dari novel-novel anak fiksi realistik karya Fahri Asiza lainnya karena judul novel ini memberi kesan adanya pesan moral yang mendalam, yaitu tidak boleh mendiskriminasi teman. Novel ini berkisah seputar tiga orang anak, yaitu Ratih, Lilian, dan Dudi. Cerita dimulai ketika Lilian menjadi murid baru di kelas VIB SD Muhammadiyah 12 Pamulang. Dudi langsung mengejek Lilian karena anak baru itu bermata sipit. Hari itu juga, Dudi menekan Lilian untuk pindah sekolah. Dudi tidak sudi ada anak bermata sipit di sekolahnya. Ratih, teman sebangku Lilian, menegur Dudi akan sikapnya terhadap Lilian itu.
Meskipun Lilian tetap tersenyum dengan sabar menghadapi Dudi, ternyata sikap Dudi itu membuatnya sedih. Lilian jadi teringat peristiwa kerusuhan yang terjadi beberapa bulan silam. Tapi mengapa? Apakah kebencian Dudi sama dengan kebencian orang-orang lain yang pernah merusak segalanya? (Asiza, 2006: 31)
Dudi terus menekan Lilian. Tanpa sepengetahuan Dudi, Ratih dan Nurul menanyakan perihal Dudi pada Gono, pengikut Dudi. Dari Gono, Ratih mendapat petunjuk kalau Dudi memang membenci orang-orang bermata sipit, termasuk Lilian. Katanya, gara-gara orang-orang bermata sipit, bapaknya berhenti bekerja (Asiza, 2006: 47).
Ratih mengajak Lilian berkunjung ke rumah Dudi yang ternyata kurang layak untuk ditinggali. Mereka hanya disambut oleh ibu Dudi. Dudi sedang menjadi kuli angkut di pasar untuk membantu ekonomi keluarganya. Dari ibu Dudi, Ratih dan Lilian menjadi tahu kalau bapak Dudi dipecat oleh bosnya yang memang bermata sipit. Setelah gagal mencari pekerjaan lain ke mana-mana, bapak Dudi sering menyendiri di bawah pohon, meratapi nasibnya sendiri.
Sepulang ke rumahnya, Ratih mendapat kabar buruk. Sepulang dari kantor, bapak Ratih ditodong. Namun, seorang laki-laki tak dikenal menolong bapak Ratih. Bapak Ratih selamat tapi laki-laki itu terluka akibat tusukan pisau para penodong. Bapak Ratih membawanya ke rumah sakit dan membalas jasa laki-laki itu dengan mempekerjakannya sebagai supir. Bapak Ratih juga berjanji akan mencarikan pekerjaan yang layak di kantornya.
Dudi tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Akibatnya, Gono dikeroyok Irfan dan Syarif di tempat sepi. Untung Ratih, Nurul dan Lilian segera menyadari hal ini. Dengan ilmu silat dikuasainya, Ratih menjatuhkan Irfan. Tidak hanya itu, Ratih juga menasihati keduanya supaya Gono, Irfan, dan Syarif mencoba berteman dalam arti yang sesungguhnya dengan Dudi. Ketiga anak laki-laki itu tersadar.
Dari ibu Dudi, Ratih dan kawan-kawan mengetahui kalau bapak Dudi sedang dirawat di rumah sakit. Susah payah Irfan dan Syarif mengumpulkan dana bantuan untuk biaya pengobatan bapak Dudi. Irfan bahkan berteriak di depan kelas, mengajak teman-temannya untuk membantu Dudi. Tapi Dudi tidak mau menerimanya dengan alasan Lilian juga ikut menyumbang.
Setelah keluar dari rumah sakit, bapak Dudi mendapat pekerjaan menjadi sopir dan menjadi bersemangat kembali. Dudi terharu melihat perkembangan bapaknya itu. Alangkah kagetnya Dudi saat mengetahui bahwa Pak Khalid, pria baik hati yang mempekerjakan bapaknya adalah bapak Ratih. Walaupun Ratih sudah mengetahui hal ini sejak seminggu yang lalu, Ratih tidak pernah menyombongkannya pada siapa pun.
Dudi duduk di gardu hansip yang sepi. Ia memikirkan kebaikan hati Ratih, Gono yang kini tidak mau menjadi pengikutnya lagi, dan kebenciannya terhadap orang-orang bermata sipit. Dudi mulai sadar. Tak seharusnya dia membenci Lilian hanya gara-gara mata Lilian sipit seperti bos bapaknya. Dudi juga sadar kalau kenakalannya selama ini telah menumbuhkan bibit kebencian di hati teman-temannya.
Dudi pulang ke rumah. Ibunya memberitahu Dudi kalau Lilian baru saja ke rumahnya seorang diri. Ibu Dudi menasihati putra sulungnya itu kalau sebagai orang beragama, kita tidak boleh membenci orang lain. Ibu Dudi ingin Dudi mengubah sikapnya terhadap Lilian dan teman-temannya yang lain di sekolah. Penyesalan yang begitu kuat menghantam hati Dudi. Dudi ingin meminta maaf pada semuanya agar hatinya tenang.
Dudi menyusul Lilian dan bertemu dengan Ratih dan Gono. Di tengah jalan, Dudi melihat Lilian sedang diperas oleh Yanto dan Amar, anak-anak nakal di kompleknya. Dudi membela Lilian dari kedua anak nakal itu tapi Ratih yang meringkus mereka dengan ilmu silatnya. Dudi berhasil menahan diri untuk tidak berkelahi lagi. Setelah Yanto dan Amar pergi, Dudi meminta maaf pada Lilian. Dudi juga berniat akan meminta maaf pada yang lainnya.
Tema yang diusung dalam novel Kita Semua Anak Negeri Ini adalah persahabatan. Tema ini memang sangat cocok untuk novel anak berjenis fiksi realistik. Anak-anak sering bergaul dengan teman-teman sebaya. Persahabatan mereka berpengaruh besar terhadap pola pikir dan perkembangan emosi mereka.
Dalam novel ini, Fahri Asiza menggunakan sudut pandang orang ketiga. Dengan begitu, pengarang dapat menyelami perasaan beberapa tokoh sekaligus. Perasaan Ratih, Lilian, dan Dudi tertuang dalam novel ini. Bahkan, sedikit banyak perasaan tokoh-tokoh lainnya juga dapat dirasakan oleh pembaca.
Proses identifikasi adalah proses yang terjadi saat seseorang menyesuaikan dan mendekatkan dirinya pada tokoh, baik makhluk hidup maupun benda, di luar dirinya. Tokoh yang dipilih untuk dalam proses identifikasi disebut tokoh identifikasi. Pengarang menyodorkan Ratih, Lilian, dan Dudi sebagai tokoh-tokoh identifikasi. Ratih dan Lilian mewakili tokoh yang baik sedangkan Dudi mewakili tokoh yang buruk. Melalui perkembangan karakter dan tindak-tanduk ketiga tokoh tersebut, anak-anak pembaca novel ini diharapkan bisa memperoleh pedoman yang baik untuk tingkah laku mereka sendiri.
Setiap tokoh dalam novel ini memiliki alasan yang kuat atas sifat-sifat dan tindak-tanduknya. Ratih mewarisi sifat baik hati dari orang tuanya. Ia juga berani menentang Dudi karena ia sudah belajar silat sejak kelas IV. Lilian sedih karena kebencian Dudi mengingatkannya pada peristiwa kerusuhan yang telah lalu. Dudi membenci Lilian karena ia bermata sipit seperti orang yang memecat bapaknya.
Dudi memang mewakili tokoh yang buruk. Namun, bila Ratih dan Lilian bisa diibaratkan sebagai tokoh-tokoh putih, tidak berarti Dudi juga bisa diibaratkan sebagai tokoh hitam. Pengarang menggambarkan Dudi sebagai tokoh abu-abu. Di rumah, Dudi adalah anak yang baik. Dudi berbuat nakal di lingkungan sekolahnya untuk menutupi rasa malunya karena kini ia tidak punya apa-apa lagi. Dengan bersikap galak pada teman-temannya, Dudi berusaha supaya ia disegani oleh mereka.
Novel ini mengajarkan anak-anak nilai-nilai kemanusiaan seperti tidak boleh membenci orang lain dan pentingnya hidup rukun dengan semua orang. Selain itu, novel ini juga memberi tahu anak-anak kalau menjadi anak nakal hanya akan membuat teman-teman menjauh dan mengecewakan orang tua. Pesn-pesan lain yang tersirat dan dapat ditangkap sendiri oleh anak-anak adalah pantang putus asa dalam menghadapi cobaan dan teruslah berbuat baik kepada sesama
Novel ini cukup jelas dan cermat. Tokoh-tokohnya tidak tergesa-gesa dan selalu ada penyebab dari tiap tindakannya. Ratih dan Lilian ke rumah Dudi untuk mencari tahu kenapa Dudi membenci Lilian. Gono menjadi pengikut Dudi supaya mendapat perlindungan Dudi. Bapak Dudi mendapat pekerjaan sebagai balasan jasanya menolong orang lain. Dudi meminta maaf pada teman-temannya setelah menyadari kebaikan hati Ratih dan Lilian. Akan tetapi, novel ini mengandung sedikit flashback. Jalinan ceritanya pun agak rumit. Anak-anak yang tidak biasa membaca akan menemukan sedikit kesulitan.
Timbul kesan menggurui pada novel ini. Beberapa kali kata “harus” ditekankan pada nasihat-nasihat yang dilontarkan tokoh-tokoh dalam novel ini. Kita harus hidup rukun dan damai (Asiza, 2006: 85). Tapi, kamu harus ingat, mungkin mereka menggerutu di belakangmu (Asiza, 2006: 102). Seharusnya kamu tidak boleh bertindak seperti itu (Asiza, 2006: 105). Selain penggunaan kata “harus”, tokoh Ratih dalam novel ini juga sering menasihati teman-temannya. Ratih dapat mengingatkan pembaca pada tokoh Lala dalam sinetron Bidadari. Baik Ratih maupun Lala, keduanya lama-lama akan membuat anak-anak sebal terhadap sikap mereka yang dianggap sok bijaksana.
Sayangnya, pengarang kurang jeli dalam menyusun logika cerita. Kerusuhan terjadi tanggal 16 Mei 1998. Pada bulan Mei berarti sekolah dasar hampir menyelenggarakan ulangan umum. Lilian baru bersekolah kembali tiga bulan setelah kerusuhan itu terjadi. Seharusnya, Lilian tinggal kelas. Akan tetapi, diceritakan bahwa Lilian berusaha mengejar pelajarannya yang tertinggal. “Lian kan harus banyak mempelajari pelajaran yang tertinggal.” (Asiza, 2006: 17) Pengarang mengira-ngira sendiri kalau ada dispensasi bagi anak-anak keturunan pasca kerusuhan. Padahal, kepala sekolah dari SD Muhammadiyah 12 Pamulang yang menjadi latar belakang novel ini mengaku tidak pernah memberikan dispensasi semacam itu.
Hal yang aneh dalam novel ini adalah Lilian sama sekali tidak mengingat teman-temannya sebelum pindah ke Pamulang. Bagaimana mungkin seorang anak bisa lupa begitu saja pada sahabat-sahabatnya di sekolah yang lama? Ketika mendapatkan teman yang baru pun anak akan membandingkan teman baru itu dengan teman lamanya.
Akhir cerita novel Kita Semua Anak Negeri Ini termasuk happy ending. Dudi menyadari kesalahan-kesalahannya kemudian minta maaf pada Lilian. Ratih mengajak teman-temannya untuk makan rambutan di rumahnya sekalian Dudi bisa minta maaf pada teman-teman yang lain.
Akhir cerita ini menyisakan sedikit pertanyaan dalam benak pembaca. Akankah semua teman-teman yang pernah diperas Dudi akan mau begitu saja memaafkannya? Anak-anak kelas VIB memang bertepuk tangan saat Irfan mengajak mereka untuk membantu Dudi, tetapi itu tidak menutup kemungkinan adanya reaksi negatif dari anak-anak kelas lain atau anak-anak tetangga Dudi seperti Yanto dan Amar. Pertanyaan besar yang masih tertinggal adalah pertanyaan-pertanyaan Lilian menyangkut kerusuhan. ”Mengapa mereka membakar rumah kita?” “Pa, apa karena kita bermata sipit?” (Asiza, 2006: 18) Anak-anak yang membaca novel ini akan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Selain mengasyikkan, proses ini juga dapat mengembangkan daya pikir anak-anak.
Amanat cerita ini secara keseluruhan tersurat dengan jelas melalui kata-kata Dudi sendiri. “Seharusnya, aku yang berterima kasih padamu, Lian, karena keberanianmu datang ke rumahku, aku akhirnya sadar atas segala kesalahanku. Ratih benar, kita semua anak negeri ini. Kita harus hidup rukun dan damai.” (Asiza, 2006: 113)

Comments (0)

Poskan Komentar